Escape [end]

Reads
471
Votes
18
Parts
18
Vote
Report
Penulis Andi Yudaprakasa

10. Nirvana Reef

Sesuai namanya. Gugus koral ini benar- benar seperti Nirwana.

Ikan- ikan tropis beraneka bentuk dan warna berenang bebas dalam kelompok di atas bentang bermacam jenis koral. Airnya begitu jernih, dengan bias cahaya matahari menembus hingga dasaran berpasir putih.
Ini adalah keindahan alam laut Lombok yang masih terjaga.

Nadin yang mengapung di dekat cadik perahu, dengan dasaran beberapa meter di bawah kakinya. Dan bentangan air luas tak terbatas di sekelilingnya— rasanya seolah ia sedang melayang.
Bebas.

Jujur saja, Nadine agak merinding menyadari kenyataan bahwa saat ini, di tengah lautan seluas ini, hanya ada ia dan Raka berdua.
Atau mungkin ia merinding karena sedari tadi Raka menggenggam tangannya erat— tak melepasnya.

Raka meraih botol kecil yang menggantung di kait ikat pinggangnya, lalu ia menekan botol itu.
Membuat serpihan- serpihan kecil pelet berhamburan dalam air di depan Nadine.

Membuat gadis itu sangat gembira ketika puluhan ikan- ikan kecil berenang cepat mendekatinya.
Melesat, saling berebut makanan.
Lucu sekali.

Nadine menggerakkan tangannya, membuat ikan- ikan berenang menghindar. Seolah mereka sedang bermain dengannya.
Sementara Raka nampak memperhatikan sekelilingnya. Sebagai guide, ia harus waspada menjaga tamunya.

Nadine berenang penuh semangat mengeksplorasi sekitar. Gadis itu lincah membelah air, meliuk dengan rambut tergerai seperti tirai.
Nadine terlihat seperti Undine— peri air yang tengah menari di antara ikan dan koral.

Lalu Raka menepuk bahu Nadin lembut. Ia menunjuk sesuatu agak jauh di bawah sana, bergerak pelan di kedalaman.
Agak tersamar dengan gugusan koral.

Nadine menyipitkan mata mencoba mengenali benda itu. Hanya berupa bayangan besar samar berbentuk oval yang bergerak seperti—

Penyu.

Sebuah penyu berukuran satu meter berwarna gelap kemerahan, tengah melintas di bawah mereka. Sirip nya merentang, bergerak begitu anggun seperti tengah mengepak pelan di dalam air.

Nadine tak melepas pandangannya, memperhatikan penyu itu melintas sampai menghilang dari pandangan.

"PUAAHH!!" Nadine muncul di permukaan sambil melepas mouthpiece. Ia berpegangan pada cadik perahu agar tetap mengapung. "Raka, sumpah ini bagus banget."

"Nggak nyesel kan ke sini?" Raka tersenyum melihat ekspresi ceria Nadine.

"Itu tadi penyu apa?" tanya Nadine.

"Kalau melihat ukurannya, sama bentuk tempurungnya yang agak lonjong dan agak bergerigi kasar di samping—" Raka mengingat- ingat karakteristik penyu itu.
"Sepertinya itu jenis hawkbill."

"Ugh, keren sekali," Nadine membenamkan wajahnya ke dalam air, menatap pemandangan di bawahnya.

"Udah mulai terbiasa dengan snorkel nya?" Raka memastikan. "Kita ke sini untuk mencari lobster. Yang artinya kita akan menyelam lebih dalam— mereka ada di dasar."

Nadine mengangguk cepat. "Ayo!"

Raka meraih tongkat besi madak nya. "Mbak Nadine ikuti saya ya."

Lalu Raka menyelam, dengan Nadine menyusul di belakangnya. Raka berenang menjauhi perahu cadik, melintasi koral penuh warna di hadapan mereka.

Lalu Raka berhenti melaju, memperhatikan pergerakan pelan di bawah sana.

Ia muncul ke permukaan —mengambil nafas panjang dan menyelam lebih dalam. Lalu ia berdiri di dekat sebuah bebaruan karang. Sepatu fin nya menjejak di dasaran pasir.

Raka membuat kode dengan gerakan tangan, agar Nadine memperhatikannya.

Nadine mengangguk, membentuk tanda OK dengan jari.

Raka memasukkan tongkat besi itu ke dalam salah satu lubang. Ia menggerak- gerakkannya, seperti hendak mencongkel isinya keluar.

Dan sesuatu pun muncul. Benda panjang bergerigi— antena lobster.

Raka menyentakkan tongkat madak nya, membuat sesuatu menghambur keluar dari dalam lubang. Lobster itu pun melesat, meluncur ke tengah air.

Yang dengan cepat Raka tangkap begitu saja.

Lalu Raka mengisyarat mengajak Nadine kembali ke perahu, di mana keduanya mengapung sambil berpegangan pada cadik.

"Keren banget!" Nadine mengusap wajahnya yang basah.

"Ini lobster batu. Warnanya membuat ia terkamuflase dengan baik dengan bebatuan karang berlumut," ujar Raka menunjukkan lobster berwana merah gelap dengan bercak hijau. "Duri- duri di kepalanya membuat ia susah ditarik keluar dari lubang."

Nadine manggut- manggut senang mendengar penjelasan Raka. Lobster di tangannya menggelepar sebelum Raka melemparkannya ke dalam perahu.

"Seru nih!" Nadine nyengir.

"Cari lagi yuk?"



Other Stories
Perpustakaan Berdarah

Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...

Pulang Tanpa Diikuti

Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...

KEDUNG

aku adalah dia yang tertutup ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Download Titik & Koma